Beranda > Uncategorized > Penentuan Awal Akhir Ramadhan

Penentuan Awal Akhir Ramadhan

Telah menjadi pemahaman kita bahwa bulan Ramadhan yang menjadi bulan ibadah dan memiliki kekhususan dan kemuliaan. Bulan di mana kaum muslimin diwajibkan untuk melakukan shaum. Kemudian diikuti oleh rangkaian ibadah yang lain, seperti shalat sunnah tarawih, witir, zakat (fitrah) dan lain-lain. Bulan Ramadhan juga bulan di mana pertama kali Al Quran diturunkan. Hal ini mendorong umat untuk lebih mengkaji dan mengikatkan diri pada bulan Ramadhan terhadap Al Quran, sebagai tuntunan hidup yang akan menyelamatkan kaum Muslimin dari berbagai problematika kehidupan, baik kecil maupun besar.

Sejak diberlakukannya kewajiban ibadah tersebut, kaum muslimin sepanjang sejarahnya senantiasa menunaikan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan sebagai perwujudan keimanan mereka kepada Allah serta kepatuhan terhadap sunnah RasulNya. Ditegakkannya semua jenis ibadah itu sebagai upaya penjelmaan sikap takwa, yakni meraih kedekatan dan kemuliaan serta keridlaan dari Allah SWT.

Kini di hadapan kita membentang bulan Ramadhan. Sebatas kadar kesanggupan kita yang maksimal dan atau keimanan kita sebagai hamba Allah SWT berupaya menunaikan perintahNya, diiringi dengan pelaksanaan sunnah-sunnah yang menyertainya. Namun satu hal, bila kita berlapang dada merenungkan secara jernih dan memiliki keinginan yang jujur terhadap kadar ketaatan kita akan syariatNya yang agung, sebagai pangkal pengukuhan seluruh mata rantai ibadah, maka segera akan kita rasakan sebuah keprihatinan yang sangat. Salah satunya adalah ketika kaum muslimin menghadapi realitas bahwa kebanyakan kita telah mengabaikan tuntunan syariat Islam pada saat melaksanakan ibadah berkenaan dengan pelaksanaan ibadah Ramadhan, misalnya, kekhusuan kita sering terusik manakala menjumpai berbagai perbedaan yang muncul mengenai penetapan awal dan akhir Ramadhan. Keadaan tersebut tidak jarang menjurus kepada bentuk silang sengketa.

Maka marilah kita sama-sama lebih arif dalam bersikap serta lebih kuat dalam mengambil tuntunan syariatNya, agar kita tidak terjerumus dalam kesesatan, pertikaian dan perpecahan. Tulisan ini mudah-mudahan dapat menjadi sambung rasa keprihatinan sekaligus himbauan, kepada seluruh pihak yang mencintai Islam dan syariatNya yang suci, serta berupaya menjadikan syariat itu utuh dan murni tanpa ada modifikasi penambahan.

Pendapat Fuqaha Tentang Awal Ramadlan dan Ied

Secara normatif, sekitar 13 abad yang lalu, tiga imam madzhab Maliki, Hanafi dan Hambali telah menggariskan wajib atas kaum muslimin di mana pun berada, memulai puasa Ramadhan pada hari yang sama. Dasar penetapannya, tak lain adalah rukyatul hilal(penyaksian bulan sabit)

Menurut pendapat Imam Malik, apabila penduduk kota Basrah (Irak) melihat bulan sabit Ramadlan, lalu berita itu sampai ke Kufah, Madinah, dan Yaman, maka kaum muslimin di kota-kota itu wajib berpuasa berdasarkan rukyat tersebut. Jika berita itu datangnya terlambat, mereka harus melakukan qadla puasa (lihat Tafsir Al Qurthuby jilid II/296).

Sementara itu dalam kitab Darul Mukhtar wa Raddul Muhtar jilid II halaman 131-132, dari Imam Al Hashfaky, tercantum pendapat Madzhab Hanafi : Perbedaan mathla (tempat terbit dan terlihatnya bulan baru) tidak dapat dijadikan pegangan. Begitu juga melihat bulan sabit pada siang hari, sebelum zhuhur, atau menjelang zhuhur, Dalam soal ini, penduduk di negeri timur Tengah (sebelah Timur Madinah) harus mengikuti (rukyat barat Madinah), jika rukyat mereka dapat diterima (syah menurut Syara).

Dan madzhab Hambali menegaskan apabila rukyat telah terbukti, di suatu tempat jauh atau dekat, maka seluruh kaum muslimin di dunia harus melakukan puasa Ramadlan. (lihat Mughniyul Muhtaj jilid II/223-224).

Sebagian pengikut Madzhab Maliki, seperti Ibnu Al Hajizuun, menambahkan syarat, rukyat itu harus diterima oleh seorang khilafah. Tidak wajib atas penduduk suatu negeri mengikuti rukyat lain, kecuali hal itu telah terbukti, dan diterima oleh al Imamul Azham (Khalifah), Setelah itu, seluruh kaum muslimin wajib berpuasa. Sebab, seluruh negeri bagaikan suatu negeri. Dan keputusan khalifah berlaku bagi seluruh kaum muslimin (lihat Nailur Authar, jilid II/218)

Pendapat para Imam Madzhab tersebut didasarkan pada berbagai hadits Rasulullah SAW. Di antaranya sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Al Hakim.

, , , ,

Sesungguhnya Allah telah menjadikan bulan sabit sebagai tanda awal bulan. Jika kalian melihatnya (bulan sabit Syawal), berbukalah, Apabila penglihatanmu terhalang maka genapkanlah hitungannya menjadi 30 hari. Ketahuilah, setiap bulan tidak pernah lebih dari 30 hari (lihatMustadrak jilid I/423)

Menurut Al Hakim yang dibenarkan oleh Adz Dzahabi, hadits itu shahih dan dari segi sanad berdasarkan kriteria Imam Bukhari dan Muslim, meskipun keduanya tidak meriwayatkan hadits tersebut. Banyak hadits yang senada maknanya dengan hadits tersebut. Lafadz hadits di atas bersifat umum, mencakup kaum muslimin, di mana pun berada. Jika penduduk negeri-negeri Timur Jauh (misalnya Cina, Jepang, Korea, termasuk Malaysia, Singapura, Brunei, dan Indonesia melihat bulan sabit Ramadlan, maka rukyat mereka wajib diikuti oleh kaum muslimin yang berada di negeri-negeri belahan Barat (seperti Maroko, Tunisia, Libia, dan Aljazair) tanpa kecuali. Karena itu wajib kaum muslimin di seluruh negeri Islam melakukan puasa pada hari yang sama.

Dalam kitab Al Fiqh Ala Madzhahib Al Arbaah, karya Abdurahman Al Jaziri, jilid I, halaman 55, terdapat keterangan sebagai berikut :

Apabila rukyatul hilal (terlihat bulan sabit) telah terbukti di salah satu negeri, maka negeri-negeri yang lain (juga) wajib berpuasa. Dari segi pembuktiannya, tidak ada perbedaan antara negeri-negeri yang lain (juga) wajib berpuasa. Dari segi pembuktiannya, tidak ada perbedaan antara negeri yang dekat dengan yang jauh, jika (berita) rukyatul hilal itu memang telah sampai kepada mereka dengan cara (terpecaya) yang mewajibkan puasa. Tidak diperhatikan lagi di sini adanya perbedaan mathla’ hilal (tempat terbitnya hilal) secara mutlak. Demikianlah pendapat tiga Imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, Ahmad) Para pengikut madzhab Syafii maka atas dasar pembuktian ini, penduduk yang dekat sekitar daerah tersebut wajib berpuasa. Ukuran kedekatan (di antara dua daerah) dihitung menurut kesamaan mathla, yaitu jarak keduanya kurang dari 24 farsakh (sekitar 120 km). Adapun penduduk daerah yang jauh, maka mereka tidak wajib berpuasa dengan rukyat ini, karena terdapat perbedaan mathla.

Mencermati pendapat-pendapat di atas, setidaknya terdapat 2 kelompok dalam masalah rukyat, yakni (1) satu rukyat untuk seluruh dunia, (2) rukyat per mathla dan (3) beberapa kalangan melakukan penentuan awal Ramadhan dan Syawal dengan hisab.

Menyikapi Perbedaan

Dalam masalah ini, pendapat ketiga Imam tersebut Radliyallahu anhum terbukti merupakan pendapat yang benar. Sedangkan pendapat Imam Syafii radliyallahu anhu terdapat hal yang mesti mendapat perhatian kita, yakni:

Pertama, Belum jelasnya manatul hukmi (fakta yang menjadi objek penerapan hukum) pada zaman itu, yaitu pemahaman mengenai fakta mathla-mathla (tempat-tempat terbitnya hilal).

Kedua, Bahwa Imam Syafii menyandarkan pendapatnya pada Ijtihad Ibnu Abbas ra dalam hal bolehnya berpuasa begitu setiap daerah berdasarkan rukyatul masing-masing, dan bahwa rukyat dari satu daerah tertentu tidak berlaku bagi daerah lainnya. Maka, menurut pendapat Ibnu Abbas, rukyat penduduk Syam, misalnya, tidak berlaku bagi penduduk hijaz.

Imam Asy Syaukani rahimahullah dalam kitabnya Nailul authar jilid IV, halaman 125, telah mendiskusikan dengan baik sekali mengenai Ijtihad Ibnu Abbas ini, yang telah menurut sebagian ulama dianggap sebagai nash dari Nabi SAW. Dan dengan demikian, berarti beliau telah menjelaskan pula kekeliruan Ijtihad tersebut yang berarti beliau telah menjelaskan pula kekeliruan pendapat Imam Syafii dalam masalah ini, yang didasarkan pada Ijtihad Ibnu Abbas.

Hadits yang menjadi objek pembahasan adalah :

, , , . , , , : : : : , , , . : , , . : : ,

Diriwayatkan dari kuraib, Bahwa Ummul Fadl telah mengutusnya untuk menemui Muawiyah di Syam. Kuraib berkata : Aku memasuki Syam, Aku melihat (bulan sabit) pada malam Jumat. Setelah itu akan aku memasuki kota Madinah pada akhir Bulan Ramadlan Ibnu Abbas lalu bertanya kepadaku dan menyebut persoalan hilal. Dia bertanya, Kapan kalian melihat hilal ? Aku menjawab : Ya dan orang-orang juga melihatnya. Lalu mereka berpuasa, begitu pula Muawiyah. Dia berkata lagi: Tapi di Madinah melihatnya pada malamSabtu. Maka kami terus berpuasa hingga kami menyempurnakan bilangan tiga puluh hari, atau hingga kami melihatnya. Aku lalu bertanya, Tidak cukupkah kita berpedoman pada rukyat dan puasa Muawiyah? Dia menjawab, tidak, (sebab) demikianlah Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami. (HR. Jamaah, kecuali Bukhari dan Ibnu Majah)

Mengomentari hadits ini, Imam Asy Syaukani berkata :

Ketahuilah, bahwa yang layak menjadi hujjah itu tidak lain adalah riwayat yang marfu dari Ibnu Abbas, bukan Ijtihad Ibnu Abbas itu sendiri.

Beliau lalu menambahkan :

Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal. Dan janganlah kalian berbuka puasa (mengakhiri Ramadhan) hingga kalian melihatnya pula. Maka jika (pandangan) kalian terhalang, sempurnakanlah bilangan sebanyak tiga puluh hari.

Sabda beliau ini tidaklah dikhususkan untuk penduduk suatu daerah tertentu tanpa menyertakan daerah yang lain. Bahkan sabda beliau ini merupakan Khitab (pembicaraan) yang tertuju kepada siapa saja di antara kaum muslimin yang khitab itu telah sampai kepadanya.

Kemudian Imam Asy Syaukani melanjutkan :

apabila penduduk suatu negeri telah melihat hilal, maka (dianggap) seluruh kaum muslimin telah melihatnya. Rukyat penduduk negeri itu berlaku pula bagi kaum muslimin lainnya.

Lalu beliau menguraikan lebih lanjut :

dengan demikian, seorang alim tentu tidak akan ragu lagi, bahwa dalil-dalil syara yang ada menunjukkan bahwa penduduk suatu negeri bertindak sesuai dengan khabar/berita yang telah sampai kepada mereka satu sama lain. Demikian pula tindakan mereka bila terjadi tindakan di antara mereka satu sama lain, dan hal ini mencakup seluruh hukum-hukum syara. Sedangkan masalah rukyat termasuk keseluruhan hukum syara.

Imam Asy Syaukani menutup penjelasannya dengan menyatakan :

pendapat yang layak dijadikan pegangan adalah, apabila suatu negeri telah melihat bulan sabit (rukyatul hilal), maka rukyat ini berlaku pula untuk seluruh negeri-negeri yang lain.

Pendapat yang beliau pilih ini tidak lain adalah pendapat tiga Imam Mazhab; Imam Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad. Perlu diketahui bahwasannya Asy Syaukani pada awalnya adalah seorang pengikut Mazhab Zaidi. Namun kemudian hari beliau menjadi seorang mujtahid mutlak.

Mengenai manathul hukmi dan fakta perbedaan mathla. Sesungguhnya pemahaman para Imam pada waktu itu belumlah sejelas pemahaman sekarang. Pada masa sekarang, kita dapat mengetahui secara meyakinkan bahwa kelahiran hilal pada bulan Qomariah terjadi ketika bulan terletak antara bumi dan matahari, tetapi hilal tidak dapat dilihat karena permukaannya yang menghadap ke bumi tidak terkena sinar matahari. Keadaan ini disebut keadaan bulan mati. Sedangkan pada saat bulan berada di antara bumi dan matahari dalam satu garis lurus atau mendekati kondisi ini, maka hal ini akan menjadi penghabisan bulan dan awal bulan berikutnya. Sebab begitu matahari meninggalkan bulan atau berjalan lebih cepat, sesungguhnya hilal telah lahir dari bulan baru pun telah mulai. Dan ini terjadi pada saat yang bersamaan di seluruh permukaan bumi, sekali waktu berada di atas suatu benua, pada kali lain berada di atas benua yang lain, demikian seterusnya. Kita juga dapat mengetahui bahwa gerak matahari yang nampak dari permukaan bumi lebih cepat dari pada gerakan bulan. Maka setelah satu bulan Qomariah penuh 29,5 hari, matahari akan bertemu kembali dengan bulan dan bulan akan berubah menjadi bulan mati lalu lahirlah hilal baru. Kita mengetahui pula bahwa gerak bulan setiap hari akan terlambat sekitar 48 menit dari matahari (selama 29,5 hari bulan akan terlambat 24 jam dari matahari. Yaitu = 24 x 60 = 1440 menit. Jika kita bagi 1440 itu dengan 29,5 hari maka kita dapatkan hasil 48,8 menit/hari). Dengan kata lain bulan akan terlambat dari matahari sekitar dua menit setiap jam.

Katakanlah, kita asumsikan bahwa perhitungan para ahli astronomi untuk terbitnya bulan Ramadlan tahun 1416 Hijriah ini benar, yaitu pada pukul 14,53 menurut waktu Beirut (18. 53 WIB), hari Sabtu tanggal 20 Januari 1996. Matahari baru akan terbenam kira kira dua jam sesudah itu. Jadi, hilal akan terbenam di Libanon kira-kira empat menit setelah terbenamnya matahari. Dalam kondisi seperti ini, rukyatul hilal tidak mungkin dilakukan, meskipun cuacanya cerah, sebab posisi hilal dekat dengan matahari, sehingga hilal akan terhalang oleh mega merah. Tetapi kalau seorang mengamati hilal di wilayah barat Amerika, misalnya di California, di mana matahari di sana baru terbenam setelah terbenam di Beirut, sekitar sembilan jam sebelumnya, maka rukyatul hilal akan mungkin dilaksanakan jika cuacanya cerah. Sebab, hilal baru akan lenyap kira-kira 22 menit (9 X 2 menit + 4 menit) sesudah terbenamnya matahari.

Kemudian jika kaum muslimin di sana menghubungi kaum muslimin di Libanon, atau Iran, dan negeri-negeri yang lain di dunia, lalu memberitahukan dengan cara yang dapat dipercaya bahwa mereka telah melihat hilal, maka bagaimanakah hukum syara bagi kaum muslimin yang tidak dapat melihat hilal, namun telah menerima informasi dari saudara-saudara mereka yang ada di tempat lain ?.

Dalam pembicaraan kita sebelumnya di atas, kita tidak menyinggung sedikit pun tentang masalah Hisab (perhitungan ilmu falak/astronomi). Dalam hal ini ada satu pendapat yang tidak diingkari seorang ulama pun, bahwa kita boleh memanfaatkan hisab sebagai petunjuk yang bermanfaat untuk menentukan kapan kita harus mengamati rukyatul hilal. Tetapi masalahnya adalah, apakah syara membolehkan kita untuk menetapkan awal dan akhir puasa berdasarkan hisab, untuk menggantikan rukyat ?.

Jawabannya : Apabila kita mendalami hadist Rasulullah SAW dalam masalah ini, akan kita dapati bahwa jika hisab itu dapat dipercaya dalam memberikan hasil perhitungan yang meyakinkan, maka pada kondisi demikian kita dapat menggunakan hisab untuk menetapkan awal dan akhir puasa, dan hisab itu pun dapat mewakili posisi rukyat.

Dalam syarah Shahih Muslim, karya Imam Nawawi, jilid VII, halaman 192, dan juga dalam Fathul Bari Bi Syarhi Shahih Al Bukhari, karya Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, jilid IV, halaman 126-127, terdapat hadist Nabi Saw dari Ibnu Umar ra :

Kami adalah umat yang ummi (tidak membaca dan menulis/tidak berilmu). Kami tidak dapat menulis menghitung. Satu bulan adalah begini, begini, begini (menyodorkan kesepuluh jari-jari tangan tiga kali, dengan menekuk jari jempol pada sodoran yang ketiga). (Lafadz hadist adalah Lafadz Imam Muslim)

Ibnu Hajar memberi komentar hadits ini sebagai berikut :

Yang dimaksud dengan hisab dalam hadits ini adalah hisabun nujum (perhitungan ilmu falak/perbintangan/astronomi) dan peredarannya. Orang-orang yang dahulu belum mengetahui ilmu itu kecuali sedikit pengetahuan yang sederhana. Dan dikaitkannya puasa dan lain-lain dengan rukyat, adalah untuk menghilangkan kesukaran (rafuul haraj) dari mereka dalam menggunakan hisab peredaran bulan.

Lalu Ibnu Hajar menambahkan :

Syara telah melarang penggunaan ilmu astronomi, sebab ilmu itu bersifat perkiraan dan taksiran. Ilmu tersebut tidak menghasilkan dugaan yang kuat. Di samping itu, kalau masalah puasa dan lain-lain harus dikaitkan dengan ilmu astronomi, niscaya akan menyulitkan. Sebab hanya sedikit orang yang mengetahui ilmu itu.

Dari penjelasan di atas, nampak bahwa Ibnu Hajar hanya menggunakan rukyat, tidak menggunakan hisab. Pendapat ini juga merupakan pendapat jumhur fuqaha pada saat itu. Namun, pendapat ini sebenarnya didasarkan pada suatu Illat tertentu (yaitu ketidakakuratan hasil hisab).

Pada saat ini, para ulama seluruh madzhab telah menggunakan hisab, dengan syarat hisab ini dilakukan oleh para ahli hisab yang berpengalaman, dan mereka termasuk orang-orang yang tsiqoh (dapat dipercaya). Dan saat ini pun kita dapat menyaksikan bahwa terjadinya gerhana bulan dan gerhana matahari dapat diketahui melalui hisab, bukan saja beberapa hari atau beberapa bulan sebelumnya, bahkan beberapa tahun sebelumnya. Begitu pula sebelum terjadinya gerhana bulan atau matahari, koran dan berbagai media massa telah menginformasikannya terlebih dahulu. Dan ternyata gerhana tersebut memang betul-betul terjadi persis seperti yang diinformasikan. Hal ini membuktikan bahwa hisab yang akurat dan teliti akan memberikan hasil perhitungan dan meyakinkan. Dan hisab seperti ini dapatlah dipercayai, selama orang yang melakukan hisab adalah orang yang ahli pada bidangnya, dan dapat dipercayai.

Tradisi Penyatuan Ramadlan

Pada masa Rasulullah saw, wilayah negeri akan mencakup seluruh jazirah Arab. Luasnya 1.200.000 mil persegi, sebanding dengan empat kali luas Jerman dan Perancis. Dengan luas sebesar itu, dengan kendaraan onta, untuk menyampaikan berita dari sebelah Utara ke sebelah Selatan Jazirah Arab, diperlukan waktu berbulan-bulan. Menurut Imam Abu Fida (672-673), kala itu untuk mengelilingi diperlukan tempo 7 bulan 11 hari. Itulah faktor penghambat tersebarnya berita rukyat ke segenap penjuru wilayah kecuali. Jika terjadi rukyat ke segenap penjuru wilayah, kecuali, jika terjadi di kota Mekkah dan Madinah. Jika terjadi rukyat di suatu wilayah, maka Rasulullah SAW. Segera menerima kabar itu setelah terbukti keIslaman si pembawa berita, walaupun berita itu datang pada siang hari.

Dikabarkan di suatu saat, penduduk Madinah berbeda pendapat tentang penentuan akhir Ramadlan, esok harinya datang dua orang melalui (orang Arab kampung) yang menyatakan kesaksiannya, bahwa mereka telah melihat bulan sabit, kemarin sore. Rasulullah lalu memerintahkan kaum muslimin berbuka dan esok harinya mereka melakukan sholat Ied.

Bahkan, pernah pula datangnya berita tentang rukyat itu pada sore hari, Dan Rasulullah tetap mendengar kabar itu. Anas bin Malik meriwayatkan, Beberapa pamanku dari orang-orang Anshar, sahabat Rasulullah SAW, menceritakan kepadaku bahwa suatu hari mereka terhalang melakukan rukyat bulan Syawal. Esok paginya, kami tetap berpuasa, kemudian, pada petang hari (menjelang maghrib), datang serombongan orang dan bersaksi di hadapan Rasulullah saw, bahwa mereka telah melihat bulan sabit. Maka Rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin langsung berbuka, dan esok harinya melakukan sholat Ied (lihat Nailul Authar, jilid IV/211).

Ibnu Umar meriwayatkan Masyarakat beramai-ramai mencari rukyat (bulan Ramadlan). Bahwa aku telah melihatnya. Beliau lalu memerintahkan puasa dan seluruh masyarakat juga melakukannya (lihat Nailul Authar jilid IV/209.

Pada masa khilafah Utsmaniyah negara mengadopsi hukum-hukum madzhab Hanafi. Karenanya, negara memberlakukan penyatuan shaum dan Ied di seluruh negeri Islam. (lihat Ad Darul Mukhtar Wa Raddul Mukhtar II/131-132). Negara biasanya mengumumkan khabar rukyatul hilal melalui koran, telegrap, telepon, dsb. Untuk mengumumkan ketetapan hilal Ramadlan, Syawal dan Iedul Adha di tiap negeri digunakan tembakan meriam. Sedangkan untuk penyatuan waktu Imsak (fajar/shubuh) dan waktu berbuka (maghrib) bagi masjid-masjid di ibu kota besar ditembakkan meriam sebanyak dua kali sehari.

Itulah sebagian tradisi Ramadlan dan dua hari raya di wilayah Islam Masa Khilafah Islamiyah. Tentu kita sangat rindu suatu kehidupan yang penuh dengan nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT seperti waktu itu yang memberi rasa aman sejahtera di bawah limpahan rahmat dan barakah Allah SWT (QS AL Araf 96)

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: